Aku gembira sekaligus pusing sebab meski bukan cerita panjang, nulis satu judul saja harus mengerahkan aneka jurus kepenulisan, apalagi tambah empat lagi. Menolak tantangan jelas pantangan. Namun ribet “urusan” kantor (saat itu aku masih kerja di Suara Merdeka) membuat proses menulis itu tersendat-sendat. Cerita kedua jadi, tak bisa lanjut ke cerita berikutnya.
Syukurlah, Tuhan yang Mahabaik memberiku jalan. Begitu aku berketetapan hati untuk fokus menulis dan pamit berhenti dari Suara Merdeka (3 Agustus 2009), tiga cerita berikutnya mengalir begitu rupa. Setelah kuedit sana-sini, aku minta Tia dan Biru untuk membaca. Deg-degan kutunggu komentar keduanya. “Bagus!” Yesss!!! Tapi kurang lengkap juga kalau tanpa komentar Gigih, si TK-kecil itu.
Suatu malam menjelang tidur, seperti biasa dia minta dibacain buku. Segera kumanfaatkan kesempatan itu untuk “promo” cerita sendiri. “Bapak bacain karya Bapak ya?” tanyaku sambil membawa naskah ke tempat tidur. “Bukunya mana?” tanya Gigih. Aku menjawab, “Ini masih naskah, belum jadi buku. Tapi ceritanya bagus lho.” Ternyata… tegas dia menolak, “Nggak mau. Nggak ada gambarnya. Jelek!” Setelah beberapa kali mencoba tetap gagal juga, ya wis, aku kirim empat cerita berikutnya itu via email ke Rosi Simamora.

Tak lama, Rosi mengirimiku contoh ilustrasi, via email juga. Wow! Bagus sekali. Kutunjukkan “halaman 1” salah satu judul cerita itu pada Entik, Tia, Biru, dan Gigih. Semua suka. “Kok jadi bagus ya?” komentar Gigih. “Nanti malem bacaain ya, Pak!” Haiyah, baru satu halaman contoh, gimana caranya? Di komputer pula. Tapi karena pengin ngerjain Gigih yang kemarin-kemarin menolak tegas dan bilang jelek, aku bacakan juga malamnya. Ya cuma awalan cerita itu. “Lho, kok gitu thok?” tanyanya. Hahaha… kena dia. “Baru satu yang digambar. Entar kalau udah jadi buku, baru bisa baca semua…” kataku.
Tak lama pula setelah itu, Rosi mengirimiku contoh ilustrasi lima karakter cerita. Lagi-lagi kutunjukkan pada orang serumah. Sangat kelihatan, Gigih yang paling kemecer sampai dia sentuh layar komputer. Ingin benar dia mengambil “buku” itu. “Ini ceritanya juga belum selesai, Pak?” tanyanya. “Ceritanya udah, gambarnya yang belum. Nanti kalau udah semua, dicetak, dan jadi buku, pasti Bapak bacaiin.” Gigih tersenyum senang tapi tetap minta tanda kesungguhan, “Tenan lho ya!”
Aku mengangguk mantap.
“Ibuk DP-nya aja, nggak usah dibacain…” sela Entik.
Aku menggeleng, jauh lebih mantap. Dia pun mencubit –seperti dulu, dulu sekali…. “Aow!”
“Heh, heh! Udah tua-tua kok guyon!” sergah Biru. Renyahlah seisi rumah.
.jpg)


