SEPERTI ibu pada umumnya, Entik agak cemas ketika Tia kirim SMS dan bertanya soal ”hukum tindik”. Dari tindik kuping sampai tindik lidah. Setelah beberapa kali saling balas, ”
Piye ki, Pak?” tanya Entik padaku yang sedang asyik nulis. Harap maklum jika kecemasan Entik meninggi karena sulung kami itu kirim SMS dari Salatiga, kota tempat dia ”sekolah” di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. Ada jarak fisik yang tentu memudahkan serangan ”penyakit jangan-jangan”.
Santai aku menjawab, ”Bilang aja sama Tia, nggak usah lebay. Tuhan nggak suka sama yang lebay-lebay...” Dan syukurlah, dialog via SMS itu berakhir melegakan karena Tia menutupnya dengan... ”
I’m find, Bunda.”
Hari berikutnya, Tia yang sejak lulus SMP berusaha membiasakan diri berkerudung kirim SMS dan tanya-tanya soal jilbab, termasuk soal tanggung jawab (perilaku) yang begitu berat karena berjilbab. Dia juga bertanya, kenapa ibunya ”baru” berkerudung menjelang menikah, bukan jauh-jauh sebelum itu: saat sekolah atau kuliah. Entik mengajakku berbincang, tapi aku tak tahu apa jawaban yang dia kirim ke Tia.
Hari berikutnya lagi, Entik menerima SMS dari Tia yang bertanya soal apa sajakah kebenaran umum selain Bumi bulat atau Matahari terbit dari Timur. ”Anak kita sedang belajar apa to ini?” tanya Entik. Aku tentu hanya bisa angkat bahu wong sama-sama tak tahu. Apalagi saat itu aku sedang terkepung
deadline kerjaan.
Entah karena apa, Tia kirim SMS yang sama padaku. Ya, soal kebenaran umum itu. Aku pun menjawab:
Bapak pinter dan ganteng, itu kebenaran umum! Dia ketawa (haha) tapi minta aku serius. ”Kalau mau serius, pulang ke Semarang, kita bisa ngobrol panjang...” jawabku.
Sabtu (23/5) Entik bilang, ”Besok Minggu jalan-jalan ke Jamol dan Gramed ya, Pak... Tia minta ketemu di sana.” Aku kaget dan bertanya persis pemain sinetron yang hanya bisa mengulang pernyataan: ”Minta ketemu di sana?” Entik mengangguk. ”Tia berencana pulang Jumat minggu depan, tapi karena pengin ngobrol, minta ketemu di Gramed besok. Setelah itu, dia langsung balik ke Salatiga, nggak mampir rumah.” Aku mbatin, ”Edan!”
* * * *
MINGGU (24/5) itu aku, Entik, Biru, dan Gigih ”piknik” ke Java Supermall. Biru dan Gigih tak tahu, kakak mereka sudah menunggu di Gramedia. Begitu ketemu, Gigih menutup mukanya dengan buku. Pasti dia kaget dan mbatin, ”Kok tiba-tiba ada Mbak Tia?” Haha... Karena Tia belum sarapan, kami segera ke
food court. ”Bapak aja ya yang ngobrol sama Tia, Ibuk mau nemenin Biru dan Gigih main di Kids Fun.”
Maka di meja itu, tinggallah kami berdua, aku dan Tia. Ini jadi kencan kedua. Kencan pertama kami bulan Mei 2007 (silakan buka dan baca arsip). Kami mengawali obrolan tentang kebenaran umum dan aku menambahkannya dengan kebenaran khusus. Aku ungkapkan semua yang aku tahu. Nyaris tanpa sisa. Bahkan nyerempet-nyerempet soal Sang Buddha, Yesus Kristus, dan Muhammad Rasulullah.
Sampai ujung, mewakili Entik, aku bertanya, ”Kamu sedang belajar apa to, Nduk?” Tia menjawab cepat, ”Bahasa Inggris...” Hah? ”Kirain lagi belajar filsafat...” kataku. Dia menukas, ”Belajar Bahasa Inggris sekalian belajar filsafat kan ya nggak papa to?” Aku ketawa.
Karena Entik, Biru, dan Gigih belum selesai main, aku pun bertanya soal jilbab. Persisnya, bertanya kenapa Tia bertanya soal jilbab. ”Ya pengin tahu aja...” jawabnya. Maka, sekali lagi, aku ungkapkan semua yang aku tahu. Termasuk awal-mula gelombang jilbab tahun 80-an di Indonesia dan ”ditandai” oleh Emha Ainun Nadjib lewat puisi panjang
Lautan Jilbab. ”Buku itu dipinjam entah siapa, hilang...” kataku.
”Kalau bicara inti,” sambungku kemudian, ”yang harus dijilbabi itu bukan kepala hingga dada, Nduk, melainkan pikiran hingga hati. Tapi sejak awal garisnya kan udah jelas, manusia itu makhluk lemah. Karena itulah, kita butuh perlindungan, juga butuh melindungi diri. Bukan dari kekuatan, melainkan justru dari kelemahan diri sendiri dan orang lain. Kebetulan agama kita ngasih tahu bagaimana cara perempuan melindungi diri agar tetap terhormat. Tapi itu tak berarti apa-apa jika sikap dan perilaku kita amburadul, jika pikiran dan hati tak terjilbabi.
”Laki-laki, termasuk bapakmu ini, seneng-seneng aja kalau dapat gratisan lihat keindahan tubuh perempuan. Begitu ada perempuan yang
nyah-nyoh, jelas sorak-sorak bergembira. Tapi sebatas tubuh, fisik thok. Tak ada yang lebih dalam atau lebih tinggi ketimbang itu. Sangat berbeda jika ketemu perempuan yang pandai menjaga dan membawa diri. Sangat berbeda. Laki-laki, termasuk bapakmu ini, bisa menaruh hormat setinggi langit pada perempuan seperti itu dan nggak berani macem-macem....”
Entik, Biru, dan Gigih datang. Kencan kami sudahi. Balik ke Gramedia untuk cari buku. ”Aku pengin buku berbahasa Inggris,” kata Tia. Segera aku carikan di rak obralan (haha) dan ketemu buku dengan kemasan bagus:
The Meanest Doll in the World karya Ann M Martin dan Laura Godwin. Setelah beli buku, kami kembali ke
food court untuk makan siang yang jadi sore itu: lontong capgomeh.
Ini adegan yang paling ”tidak menyenangkan”: Tia balik ke Salatiga, sedangkan kami berempat pulang ke rumah. Aku dan Entik coba merayu Tia untuk nginep barang semalam, Biru dan Gigih protes, tapi Tia keukeh balik ke komunitas belajarnya: Qaryah Thayyibah. Meski begitu, aku pulang dengan dada longgar karena mulai merasa bisa menjadi teman bagi anak sendiri, bukan cuma ”anak orang lain” seperti selama ini......
* * * * *
ESOKNYA, aku terima SMS dari Tia. Dia mengutip puisi Lautan Jilbab karya Ainun:
jika aurat dipamerkan di koran dan di jalan
Allah mengambil kembali cahaya-Nya
tinggal paha mulus dan leher jenjang
tinggal bentuk pinggul dan warna buah dada
para lelaki yang memelototkan mata
hanya menemukan benda
jika wanita bangga sebagai benda
turun ke tingkat batu
derajat kemakhlukannya....Aku tersenyum dan membalas:
Yes! Alhamdulillah....